Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar pemerintahan, teknologi, dan layanan publik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Musibah  dan Maksiat Sebuah korelasi
6 Des 2018

Musibah dan Maksiat Sebuah korelasi

Akhir-akhir ini langit indonesia tidak lagi tersenyum berseri. Awan kelabu selalu menaungi dan menyelimuti bumi pertiwi. Musibah datang silih berganti, bencana alam menimpa seakan tak mau berhenti. Terus menerus menyapa dan menerpa pelosok negeri, seakan sudah jadi menu wajib setiap hari. Gempa bumi, tsunami, banjir, puting beliung, longsor sampai yang terakhir tragedi pesawat lion jt 610 yang korban dan penyebabnya masih dicari dan diselidiki. Sudah pasti kesemuanya menyebabkan duka mendalam dan derita yg tak terperi. Korban jiwa berjatuhan begitu juga kerugian materi sulit untuk diprediksi. Setelah porak poranda begini perlu waktu lama untuk pulih dan bangkit kembali. Butuh dana yang tidak sedikit untuk merekonstruksi ulang dan rehabilitasi. Rasa takut masyarakat dan trauma yang ditanggung dan harus segera diatasi. Agenda negara pun hanya berkutat dari bencana yang satu ke yang lainnya menguras habis energi. Begitulah gambaran dan konskuensi negeri ygang katanya berdiri dalam spektrum cincin api. Berada di zona rawan bencana meniscayakan kita harus selalu siaga dari segala kemungkinan petaka dan potensi. Eksodus atau migrasi?? sy kira tdk sesederhana itu dan bukan juga sebuah solusi. Dulu kita dikenal dengan sanjungan negeri gemah ripah loh jinawi, toto tentram karto raharjo, kekayaan alamnya melimpah, panoramanya indah, budayanya ramah, tanahnya subur rakyatnya makmur, namun cerita itu telah berlalu. Kini tanah airku tercinta terus dirundung nestapa, air mata kesedihan menetes di mana mana, rakyat menderita kehilangan jiwa dan harta benda, rumah sebagai tempat tinggal satu satunya kini telah rata dengan tanah. Kebun, sawah d pabrik tempat mencari nafkah sudah tdk bertuah. Hidup di pengungsian karena tidak ada pilihan, ekonomi keluarga mnjd tidak jalan, anak2 menjadi sngat rentan dan riskan, kesehatan selalu jadi dampak yang kerap dipersoalkan. Mari kita introspeksi apa sebenarnya yang menyebabkan semua ini? Apakah hanya semata faktor alam yang kajiannya tak pernah tuntas. Siklus tahunan, kesimpulan yang membuat orang awam kurang puas. Atau teguran dari Penguasa karena maksiat dan kesalahan yang melampaui batas. Padahal setiap perbuatan dosa umat manusia berkorelasi menjadi beban memberatkan bagi bumi. Akibatnya ditanggung sendiri. Tidak ada sejengkal bumi pun yang luput dari ilmu Allah yg Maha Mengetahui. Tak ada satu lembar daun kering yang jatuh kecuali atas kehendakNya terjadi. Mungkinkah ratusan atau bahkan ribuan manusia mati tanpa sebab dan kausalitas? sepertinya mustahil kalau dikaji. Omong kosong semua analisa dan mitigasi kalau itu mengenyampingkan faktor penting ini. Hanya mengaitkan pada dimensi alam dan kerusakan alat teknologi. INGAT ada banyak kelompok manusia sebelum kita yang binasa karena maksiat dan perbuatan keji. Zina bebas maupun dilokalisasi, LGBT difasilitasi dan jadi ajang kontestasi, sistem ekonomi penuh unsur ribawi, harta kekayaan menjadi hak monopoli tak perlu dibagi bagi, agama hanya simbol yang ada dalam formalitas ceremony. Kalau sudah begini lalu apa yang membuat kita resistan terhadap murka Ilahi ?? Nauzubillah. Bacalah al-Quran sesekali resapi maknanya dlm hati. Mari kita taubat dan merujuk kepada kebenaran hakiki agar dosa-dosa kita terampuni dan musibah tak datang lagi, aamiin.

Episode Baru Provinsiku
6 Des 2018

Episode Baru Provinsiku

Memasuki usia 18 tahun wajah Provinsiku, hari ini, sejatinya sdh mulai menunjukkan tanda-tanda kedewasaan. Seukuran manusia normal diusia ini rasanya malu kalau masih 'ditugak' (disebut) anak-anak apalagi kekanak-kanakan. Artinya kita tidak bisa lagi berpretensi dengan segala kedunguan dan keculunan yg ada, atau apapun istilahnya. Rentang waktu hmpir mendekati 2 dasawarsa ini lebih dari sekedar cukup untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan memaksimalkan potensi sumber daya yang kita punya. Sudah 3 periode kepemimpinan daerah yang naik dan turun tahta, pemegang tongkat tertinggi amanah negeri. Ada banyak capaian dan prestasi harus fair kita akui, namun ada beberapa titik lemah yang juga perlu dievaluasi untuk kita lbh baik lagi. Jangan sampai realitas hari ini diluar ekspektasi para pejuang yang telah rela mengorbankan dan mengambil semua risiko demi tegaknya provinsi ini. "What do we have now?" Mungkin sebuah pertanyaan klise. Sebenarnya sebagai Provinsi, kita tidak miskin-miskin amat. Sumber Daya Alam (SDA) kita, alhamdulillah, bisa dibilang cukup berlimpah. Sektor pertanian dan perkebunan kita, diantaranya bahkan sudah lama dikenal, punya brand dunia yaitu Muntok white pepper (lada putih) yang pernah berjaya dan menjadi magnet bagi  kedatangan bangsa Eropa. Walaupun pada beberapa dekade terakhir mengalami phase kelesuan dan produksinya menurun tajam. Sehingga baru-baru ini mulai diinisiasi dan dirintis untuk reborn kembali. Bumi dan perairan kita secara spesial juga kaya akan kandungan biji timah yg merupakan komoditi ekspor utama sejak dulu kala. Meskipun sangat ironis manfaatnya hanya dinikmati oleh segelintir orang atau korporasi. Malah setelah dieksploitasi isi buminya habis2an, sekarang hanya menyisakan lubang-lubang "camoi" (lubang bekas galian tambang) yang dibiarkan menganga begitu saja. Reklamasi belum menyentuh akar permasalahan sesungguhnya. Sebagai Provinsi Kepulauan tentu kita punya kekayaan dan ekosistem laut yang sangat luar biasa. Namun kenyataannya tidak gampang untuk memperoleh ikan segar dan berkualitas di pasar-pasar, jika pun ada harganya selangit. Sehingga kita hanya mendapat jatah sisa, sedangkan yang super-super sdh diplot untuk tujuan ekspor manca negara, sangat miris memang. Garis pantai kita yg luas dan indah menjadi daya tarik tersendiri di bidang pariwisata, bila ini dikelola dengan baik tidak mustahil kita akan menjelma sebagai destinasi wisata dunia. Ketersediaan infrastruktur dan fasilitas yang memadai, menjadi sebuah keniscayaan disamping faktor promosi dan unsur penunjang lainnya yang saling melengkapi. Maksudnya, kalau hanya mengandalkan keindahan alam saja, mungkin orang akan cepat merasa bosan, namun akan lestari bila didukung dengan keelokan adat istiadat dan kearifan budaya lokal secara simultan. Letak provinsi ini strategis, 1 jam penerbangan dari ibu kota negara tentu menarik minat banyak orang untuk berkunjung dan menghabiskan masa liburnya di sini. Dampaknya bagi geliat perekonomian akan dirasakan oleh seluruh komponen anak negeri cepat atau lambat. Pada akhirnya manakala semua pihak memahami peran dan tanggungjawabnya, vertikal maupun sosial, maka kesejahteraan menjadi kado terindah di episode ke-18 ini. Ibarat ajang pencari bakat untuk serial TV, kita urang (orang) Bangka Belitung ini tidak semua diterima sebagai pemain karena harus lolos casting dulu dan sebagainya, namun menjadi penontonpun kita juga tidak boleh kehilangan momentum dan progress pada setiap episodenya. Dirgahayu Provinsiku.

Esensi Perlindungan Anak
6 Des 2018

Esensi Perlindungan Anak

Anak adalah generasi penerus bangsa. Baik dan buruknya nasib bangsa ini kedepanya akan sangat ditentukan oleh kondisi anak-anak kita hari ini. Oleh sebab itu mempersiapkan generasi yg kuat dan berkualitas menjadi sangat penting dan urgent untuk diperhatikan dari sejak dini. Hal ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita semua, bersama seluruh komponen bangsa. Pemerintah selaku pengambil kebijakan, stakeholders, masyarakat serta keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi anak. Seorang ayah, kepala keluarga belum cukup hanya concern pd pemenuhan kebutuhan jasmani anak saja, namun lebih dari itu peran dan andilnya dalam perkembangan rohani dan pendidikan mereka tidak boleh terlewatkan apalagi terabaikan. Begitu juga keberadaan seorang ibu sdh pasti akan sangat berpengaruh terhadap kondisi anak secara menyeluruh. Karena seorang ibu juga berperan sebagai madrasah ula (sekolah pertama). Makanya agama menekankan dan mengajarkan bahwa semua orangtua akan diminta tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya di akhirat kelak. Oleh sebab itu menjadi wajib bagi setiap orangtua memilih model pendidikan yg menjawab semua harapan dan tuntutan ini. Pemerintah sudah pasti sebagai pengambil kebijakan dan pembuat peraturan dan undang-undang hendaknya hadir serta mampu menempatkan otoritasnya yang lebih akomodatif dan proporsional di tingkat nasional maupun lokal. Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menekankan pada aspek pembinaan kepribadian dan karakter anak hendaknya menjadi skala prioritas disamping pembangunan berbasis fisik material. Keduanya mutlak harus terselenggara dalam tatanan kebijakan dan juga praktis pelaksanaan. Jumlah penduduk anak yang berkisar 30% dari totalitas keseluruhan penduduk Indonesia. Hal ini merupakan porsi yg cukup besar dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan itu bukan hanya sekedar angka-angka di atas kertas saja. Akan tetapi itu lah realita potensi dan kekuatan bangsa ini sebenarnya. Pendapat bahwa anak-anak hanyalah kelompok marginal yang tidak penting adalah anggapan yang sangat keliru dan perlu untuk diluruskan. Pandangan bahwa anak-anak hanyalah sebuah phase usia alamiah yang tak perlu diintervensi adalah pemikiran yang sangat primitif. Berangkat dari petunjuk nabi kita yang mulia yang kita analogikan bahwa jiwa anak adalah ibarat kertas polos dan putih bersih tergantung kedua orangtuanya mau diwarnai dengan apa,  maka si anak akan tumbuh dalam warna itu. Dalam hadits yang lain Beliau menjelaskan bahwa setiap bayi dilahirkan dalam kondisi fitroh (suci/islam) maka kedua orangtuanya lah yang mengubahnya sebagai yahudi, nasroni atau majusi. Seorang anak yang tumbh dan berkembang dalam lingkungan dan kultur yang baik maka modal berharga dan garansi bagi kemaslahatan umat dan nasib bangsa ini nantinya. Mari kita lihat lingkungan sekitar kira-kira sudah idealkah memadaikah untuk pertumbuhan generasi milenial ini. Lingkungan ini begitu luas cakupannya. Sesungguhnya dia tidak berhenti pada situasi d kondisi sekitar tempat tinggal, akan tetapi lingkungan global. Media ICT menjadi faktor yang dominan dalam membentuk kepribadian anak. Sementara faktanya tidak ada lagi ruang privat yang steril dari pengaruh buruk kemajuan teknologi yang mereduksi peran-peran sosial kemanusiaan lazimnya. Akhirnya saya katakan bahwa Perlindungan Anak merupakan sebuah investasi masa depan yg mengajak kita semua untuk punya andil dan punya 'saham' apapun bentuk d lan skalanya. Orangtua, keluarga, masyarakat, guru dan pendidik, dan stakeholders terkait lainnya. Kepedulian terhadap anak hakikatnya adalah kepedulian terhadap nasib bangsa.

Rancangan Sistem Informasi Perparkiran
31 Agt 2018

Rancangan Sistem Informasi Perparkiran

ABSTRAK Pada saat ini, Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung belum memiliki system perparkiran untuk para pegawai ataupun tamu yang berkunjung ke Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, sehingga pemilik kendaraan kadang memarkirkan kendaraannya tidak pada tempatnya sehingga membuat area parkir pada halaman belakang Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung menjadi sedikit kurang nyaman. Dalam gagasan tertulis ini dibuat suatu aplikasi parkir berbasis komputerisasi guna menjawab permasalahan yang dihadapi selama ini. Perancangan sistem informasi perparkiran ini dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic dan Seagate Crystal Report untuk pembuatan laporan. Data kapasitas ruang parkir digunakan untuk pembuatan database yang  diperoleh dari survei satuan ruang parkir yang diolah menggunakan aplikasi Microsoft Office Access. Tujuan dibangunnya sistem informasi perparkiran ini diharapkan sistem perparkiran pada Gedung Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung akan jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Sistem informasi perparkiran ini dapat menata perparkiran pada Gedung Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dan mengolah data parkir yang mencakup data kendaraan sehingga proses perparkiran dapat berjalan dengan efektif. Pihak pengelola akan lebih mudah dalam mendapatkan berbagai informasi dan data-data yang dibutuhkan dalam waktu yang relatif singkat. (Kata Kunci : Database, Perparkiran, Sistem Informasi)   Rancangan Sistem Informasi Perparkiran.pdf

Muhammad Fadholly Baca Selengkapnya
Tradisi "Kekal" di Bulan Ramadhan
7 Jun 2018

Tradisi "Kekal" di Bulan Ramadhan

Manusia memang tidak ada habis-habisnya dalam menciptakan sesuatu eksistensi di kehidupan sehari-hari, bahkan tidak jarang dalam kehidupan sehari-hari manusia seringkali mempunyai kesepakatan untuk membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh semua anggota masyarakatnya, dan bahkan peraturan-peraturan tersebut sudah mendarah daging di dalam jiwa para anggotanya. Sehingga pada akhirnya peraturan-peraturan yang disepakati dan ditaati bersama itu membentuk sesuatu yang dinamakan dengan tradisi. Dalam kehidupan sosial, tradisi seringkali dilakukan secara turun temurun kepada siapapun itu, dan bahkan bisa saja tradisi tersebut di modifikasi untuk menyesuaikan dengan zaman. Misalnya pada saat ini, tradisi membaca dan menulis tidak hanya dilakukan di media cetak, tetapi tradisi tersebut juga bisa di lakukan pada media baru. Oleh karenanya, tradisi tidak pernah berhenti untuk selalu melakukan enkulturasi, dan tradisi juga akan terus menerus diperbaharui dengan keadaan yang sesuai dengan zamannya. Begitupun saat bulan ramadhan tiba, tradisi masyarakat Indonesia yang beragama islam akan seringkali terlihat. Tak pelak pada setiap tahunnya, masyarakat Indonesia selalu mematuhi tradisi tersebut, dan hal itu sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja, karena tradisi tersebut sudah mendarah daging di dalam jiwa masyarakat yang beragama islam. Ketika ramadahan tiba, masjid menjadi ramai dengan lantunan ayat-ayat suci, bahkan ketika sore tiba, masyarakat akan bersiap-siap untuk melaksanakan buka puasa. Beberapa tindakan-tindakan tersebut memang salah satu ciri khas yang dipunyai oleh umat islam, dan tidak jarang juga, tradisi demi tradisi baru pun selalu diciptakan oleh masyarakat dalam menunaikan ibadah puasa. Dalam upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT, tentunya masyarakat akan terus belomba-lomba dalam kebaikan dengan berbagai cara, sehingga dari beberapa tindakan-tindakan yang terus diberlakukan akan selalu mempunyai motif, pada umumnya motif tersebut adalah untuk memperbanyak pahala. Bulan ramadhan memang seringkali dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan yang sangat agamis, karena dengan melakukan kegiatan yang sangat agamis, masyarakat akan mendapatkan pahala yang banyak. Oleh karena itu, pada umumnya masyarakat tidak hanya memanfaatkan momentum bulan ramadhan hanya untuk menahan haus dan lapar, tetapi masyarakat juga harus terus melakukan aktivitas yang sangat bermanfaat. Tetapi ketika di satu sisi masyarakat selalu mengejar pahala dan pahala, justru ironinya sampai saat ini, masyarakat selalu berlebihan dalam kegiatan yang sangat konsumtif. Dengan datangnya bulan ramadhan, masyarakat akan lebih banyak dalam membeli makanan untuk menu berbuka puasa, dan masyarakat juga akan bersemangat jika bulan ramadhan akan berakhir. Pasalnya, ketika bulan ramadhan akan berakhir, masyarakat akan berbondong-bondong menuju pusat perbelanjaan untuk membeli baju dan berbagai macam hal baru yang digunakan untuk menyambut idul fitri nanti. Tradisi tersebut selalu berjalan terus menerus sampai saat ini, padahal tidak ada firman tuhan yang mewajibkan bahwa umat islam harus menggunakan baju baru ketika datangnya idul fitri, tetapi hal itu seperti suatu fenomena yang sudah diangap sebagai hal yang sangat wajar. Menjadi masyarakat yang konsumtif juga sepertinya bisa merepresentasikan bahwa disatu sisi ternyata umat islam pada umumnya juga sangat amat boros dalam kegiatan berbelanja. Terlebih lagi terpaan iklan pada saat ini yang memenuhi media massa dan internet sangat tidak terbendung, sehingga pada akhirnya sangat sulit untuk tidak terhasut oleh terpaan iklan tersebut. Oleh karena itu, dalam setiap tahunnya, ketika bulan ramadhan datang, ada dua tradisi yang sangat sulit dihilangkan. Pertama, tradisi memperbanyak pahala, dan yang kedua, tradisi boros belanja untuk membeli baju baru dalam rangka menyambut idul fitri. Maka dari itu sudah sepatutnya jika bulan ramadhan tiba, ibadah kita sebagai umat islam harus terus meningkat, dan lebih baik daripada yang kemarin. Jika mempunyai rezeki yang lebih, maka jangan selalu terus menerus mementingkan diri sendiri, cobalah tengok saudara-saudara kita yang menjadi yatim piatu, menjadi fakir miskin, dan orang-orang yang lebih membutuhkan. Sangat lebih bijaksana jika kita selalu merealisasikan makna dari bulan ramadhan tersebut, yaitu harus selalu berbagi antar sesama umat islam. Bukan melanggengkan kebudayaan hedonisme yang tidak pernah usai.  

Aisyah Putri Baca Selengkapnya
PEREMPUAN DALAM ISLAM
4 Jun 2018

PEREMPUAN DALAM ISLAM

Hanya ada dua jenis umat manusia di dunia ini dari sejak pertama kali  diciptakan. Laki-laki  dan perempuan. Selain jenis  ini silahkan dibahas di forumnya sendiri.  Keduanya memiliki bentuk dan sifatnya masing-masing  secara kudroti yang berbeda antara satu dengan lainnya. Memiliki misi dan potensi untuk saling melengkapi agar peran kekholifahan di muka bumi  ini  berjalan secara seimbang dan berkesinambungan. Terma kholifah dalam  konteks ini dimaknai dengan  keberlangsungan hidup. Tugas dan amanah ini hanya akan sukses manakala dilakukan dengan mengikuti aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT, Pencipta dan Pemilik alam semesta.  Pembahasan perempuan dalam perspektif Islam bukanlah qaul jadid atau masalah baru. Jauh sebelum dunia barat mengkampanyekan teori gender secara massif seperti hari ini, Islam pada  15 abad yang lampau telah menyatakan penghargaan  dan penghormatan yang pantas dan proporsional untuk kaum wanita. Justru deklarasi menumental ini lahir  disaat perempuan berada pada titik nadir dalam sejarah peradaban umat manusia. Mereka dipandang sebagai 'barang' yang dapat diperjual belikan. Diberlakukan dengan tidak hormat hanya sebagai pemuas nafsu saja, dapat diwarisi. memiliki anak perempuan adalah aib keluarga sehingga menjadi sebuah kewibawaan menguburnya hidup-hidup. Tidak ada hak sama sekali atas harta benda suaminya atau ayahnya. Sejarah kelam yang menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan yang sulit untuk dibayangkan. Itulah budaya dan kultur masyarakat yang terkenal dengan istilah jahiliyah. Artinya bodoh karena kondisi yang telah melampaui batas-batas akal sehat kemanusian. Islam datang dengan misinya yang sangat familial dan terkenal. Termaktub sepanjang zaman sebagai rahmatan lil’alamin. Pengukuhan dan penegasan di tengah kemerosotan akhlak/moral dan resesi budaya masyarakat bahwa semua manusia adalah sama dan setara  di hadapan Allah SWT.  Perbedaan itu hanya ditentukan oleh kualitas iman, amal  dan takwa. Bukan pada garis keturunan, rupa, warna kulit dan juga jenis kelamin. Konsekuensinya tidak boleh lagi ada diskriminasi, kezoliman dan sikap anti sosial lainnya karena sesuatu yang telah menjadi domain dan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa.  Perempuan yang sholihah sama derajatnya  dengan laki-laki yang sholih. Mendapat pahala dan juga dosa yang setimpal sesuai amal perbuatannya masing-masing. Mempunyai tugas, tanggung jawab (responsibility), kewajiban dan hak dalam batasan hukum taklifi menurut kehendak dan kebijaksanaan syariat.   Setiap perempuan muslimah diakui dan dijamin haknya sebagai penerima harta warisan sesuai  dengan asas keadilan Allah (hikmah). Ketentuan bagian perempuan dalam beberapa kasus faroidh memperoleh seperempat, sepertiga atau separuh dari bagian laki-laki ini tidak bisa menjadi dalih bahwa agama mengajarkan ketidakadilan dan  diskriminasi gender. Namun ketentuan ini dengan alasan yang sangat logis dan masuk akal bila dikaji dalam kesempatan yang lebih luas. Kewajiban memberikan mahar (nihlah) dalam suatu prosesi pernikahan adalah bentuk konkrit lain pemuliaan Islam terhadap kaum perempuan. Makin tinggi nilai mahar yang diberikan makin bagus dan berkah arti suatu pernikahan dan itu menjadi hak prerogatif pengantin perempuan. Masyaallah. Sosok ibu dikomplementasikan  secara propethis sebagai (al-umm madrasah ula) artinya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Eksistensinya bagi generasi bangsa dalam rumah tangga sangat strategis. Fungsi pengajaran dan pendidikan (tarbiyah ) bagi anak bangsa menjadi sangat bergantung pada kualitas kaum ibu. Kesuksesan anak dan keluarga di kemudian hari tidak terlepas dari peran dan jasa seorang ibu. Karena keluarga adalah bentuk terkecil dari suatu negara maka kondisinya berkorelasi dan berkontribusi terhadap nasib suatu bangsa. Bahkan dalam parameter yang lebih luas para ibu dianalogikan sebagai tiang negara (al-ummahat ‘imad al-bilad). Perempuan  kuat negara kuat. Kaum ibu merepresentasikan tiga kali lipat wilayah kehormatan para ayah. Bahkan  Allah SWT, menggantungkan keridhoanNya dengan ridho orangtua terutama ibu. Secara spesialis Allah SWT istimewakan perempuan nama bagi satu surah dalam kitab suciNya yaitu surah an-nisa'. Kewajiban mengenakan jilbab adalah perintah mutlak bukan dengan tidak ada sebab. Perempuan yang tampil seksi dan fulgar menjadi sebab pemicu dari beragam kasus pelecehan, kekerasan seksual dan pemerkosaan, maka keharusan menutup aurat menjadi suatu keniscayaan. Ini bukan tentang pembatasan gerak dan hak asasi perempuan seperti yang dituduhkan kalangan anti Islam, akan tetapi membuka pintu bagi kehormatan dan martabat kaum wanita muslimah di ruang domestik dan publik. Islam tidak pernah melarang mereka untuk berkarir dalam suatu profesi dan pekerjaan sejauh eksistensinya terjaga dari kondisi ikhtilat, kholwat dan unsur maksiat lainnya. Mendapat penghargaan dan gaji sesuai dengan bidang kompetensi dan keahlian yang dimiliki. Tidak boleh ada perbedaan upah karena pertimbangan faktor perbedaan jenis kelamin. Poligami adalah masalah yang paling ramai dikomentari para pegiat dan aktivis gender.  Beragam hujatan dan opini dialamatkan untuk menyudutkan konsep Islam karena telah membolehkannya praktek beristeri lebih dari satu perempuan. Legalisasi berpoligami tidak relevan dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan serta merendahkan martabat kaum wanita. Bagaimana mungkin rasa keadilan dan tanggungjawab dapat maksimal terjaga dalam suatu keluarga yang melaksanakan perkawinan dengan dua orang isteri atau lebih ini secara simultan. Inilah antara lain dalil-dalil stigma dan propaganda yang sengaja mereka besar-besarkan agar umat ini ragu terhadap kebenaran agama ini. Mari kita dudukkan masalah ini secara lebih proporsional. Paktek poligami hukumnya hanya mubah (boleh) bukan sunnah apalagi wajib. Itupun dengan syarat dan ketentuan yang tidak mudah. Hanya karena kondisi yang memaksa dan demi kemaslahatan bersama seorang muslim dapat melakukan opsi ini. Islam sebenarnya tidak kekurangan dalil dan argumen untuk menjelaskan semua permasalahan aktual dan kontemporer secara terang benderang. Islam sangat concern dalam menjaga harkat, martabat dan keadilan umat manusia. Deklarasi dan pembelaan hak-hak asasi manusia, melawan upaya dan praktek-praktek diskriminasi gender dan marginalisasi karena perbedaan kodrati. Tidak ada satu dalilpun dalam al-quran al-karim maupun hadits nabawi yang mendiskreditkan status kaum perempuan. Khodijah, Aisyah, Asma binti Abu Bakar dan lain-lainnya adalah contoh figure-figure wanita muslimah di masa Rosulullah SAW dan Sahabat RA yang sangat disegani dan dimuliakan. Prestasi dan kontribusinya dalam tarikh Islam menjadi bukti bahwa perempuan bisa sejajar bahkan melebihi kaum laki-laki dalam  beragam aspek kehidupan kapan dan dimana saja. (Caknur)